Minggu, 21 April 2013

Perdukunan,Era GLobalisasi, dan Perwayangan


Tugas 1 , Tentang Perdukunan.
Bismillah, Salah satu hal yang paling berbahaya yang dianggap biasa dalam masyarakat adalah masalah dukun dan tukang ramal. Sekarang ini, para dukun, tukang sihir dan para peramal itu menggunakan gelar gelar atau nama nama yang disamarkan biar terkesan bukan dukun atau sihir? kenapa? karena masyarakat tahu kalau hal tersebut di larang oleh islam.

Maka muncullah istilah baru bernama Orang pintar, penasehat spiritual, mentalist, paranormal dan sebagainya. Bahkan sebagian menggunakan sorban, jubah atau menggunakan tasbih biar tekesan islami. Sebagi seorang muslim, jangan tertipu dengan berbagai nama nama diatas, karena pada hakekatnya mereka adalah satu yaitu dukun dan tukang ramal serta tukang sihir.

Renungkan dua hadist berikut ini:
Diriwayatkan dari sebagian istri Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan meminta untuk mengabarkan sesuatu, kemudian ia membenarkan perkataannya maka tidak diterima shalatnya 40 hari”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu beliau berkata, Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun kemudian membenarkan perkataannya, maka ia telah kufur dengan Al Qur’an yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam

Jika mendatangi saja diancam dengan tidak diterima sholatnya 40 hari bahkan bisa menyebabkan seorang kafir, bagiamana sendiri dengan belajar/praktek perdukunan itu sendiri. Ini jelas jelas dosa yang sangat besar. Dijaman rosulullah dan sahabat, para dukun dan tukang sihir ini dihukum dengan hukuman mati karena besarnya kerusakan yang ditimbulkan oleh dukun ini. Sudah seharusnya seorang muslim menjauhi segala macam hal berikut, termasuk menonton acara kesyririkan tersebut di TV kalau masih ingin menjaga keutuhan imannya.

Karena saya juga masih menuntut ilmu, maka mari kita sama sama mendengarkan kajian tentang bahaya dukun, tukang ramal dan sejenisnya yang diampaikan oleh ustadz zakaria ahmad dan Ustadz Abdullah shaleh  Hadrami dibawah ini .


Tugas 2 , Tentang Cara Kita sebagai Masyarakat dalam menghadpai era globalisasi
Bagaimana Cara Mengantisipasi Arus Gloablisasi
Beberapa faktor yang menyebabkan pemuda saat ini tidak lagi mengamalkan sumpah pemuda salah satunya adalah perubahan arus globalisasi  yang terus bergulir dengan cepat mengharuskan para pemuda untuk mengikutinya. Tidak bisa dipungkiri, globalisasi  memiliki dampak positif dan negatif.  Seperti rasa solidaritas sosial yang tinggi, kesetiakawanan sosial antar Negara saat ini sangat maju pesat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ketika bencana alam dan musibah HAM terjadi di suatu tempat, maka bantuan kemanusiaan dalam waktu singkat mengalir dari mana-mana. Bencana Tsunami di Aceh atau bencana busung lapar di beberapa daerah di NTT sempat mengundang perhatian dunia. Bantuan material dan tenaga penyelamat  segera berdatangan dalam waktu cepat.
Walau karena satu dan lain hal datangnya agak terlambat. Efek positif lain yang dapat kita nikmati adalah kemudahan dalam pekerjaan dan memperoleh informasi. Dengan merebaknya teknologi informasi, anak-anak sekolah tidak saja mendapat informasi dari guru dan buku-buku, tetapi juga dari VCD/DVD, dari internet, serta koran-koran yang semakin banyak jumlahnya. Akan tetapi globalisasi tidak bebas dari pengaruh negatif. Banyak efek negatif  dari globalisasi yang sangat memprihatinkan. Pertama, gaya hidup instan. Banyak orang sekarang membeli barang yang cepat digunakan dan praktis tanpa memikirkan apa dampaknya jika dipakai dalam jangka panjang. Misalnya, seperti ibu-ibu yang membeli bumbu instan seperti saus dan sambal botolan yang mengandung zat kimia dan dapat menyebabkan kanker, padahal ada tomat dan lombok segar yang jauh lebih sehat dan murah. Kecendrungan membeli mie instan yang dijadikan sebagai pengganti sayur, padahal kandungannya sama seperti nasi (karbohidrat).
Konflik-konlfik sosial yang muncul bisa jadi disebabkan karena orang mau mencari jalan pintas yang termudah, seperti demo tanpa terlebih dahulu melakukan negosiasi, atau tindakan main hakim sendiri dengan membakar dan membunuh pelaku kejahatan tanpa proses keadilan. Ketiga, individualisme. Saat rasa ketergantungan antar individu masih tinggi solidaritas antar anggota suatu masyarakat biasanya cenderung kuat. Namun pada saat uang menjadi simbol segalanya dan tiap orang memiliki sumber daya masing-masing, setiap orang menjadi otonom. Otonomi ini menimbulkan rasa tidak saling peduli dan sibuk dengan diri sendiri. Tiap orang mengikuti kehendak diri sendiri dan karena itu ikatan moral yang didasarkan pada kontrol sosial menjadi longgar. Keempat, romantisme. Ekspresi keakraban antar lawan jenis yang lebih menampilkan romantisme populer. Pada saat ini pacaran semakin diidentikkan dengan seks.
Dalam pantauan dan penelusuran saya selama ini bahwa sebagian besar remaja / pemuda sudah menganggap seks dalam pacaran adalah sebagai suatu hal yang lumrah atau kalau mereka yang menjalani pacaran tidak melakukan seks. Mereka beranggapan untuk apa pacaran kalau tidak memahaminya. Penggunaan dan pemakaian Narkoba dalam pergaulan sehari-hari membuat para kalangan pemuda saat ini melupakan norma-norma yang ada. Mereka beranggapan kalau gaul harus menggunakan barang haram itu, kalau mereka tidak memakainya mereka dianggap ketinggalan zaman. Kelima, sadisme. Sekarang dalam media massa kita dapat menyaksikan banyaknya terjadi kasus-kasus kekerasan, seperti pemerkosaan anak-anak di bawah umur, tawuran antar mahasiswa hanya gara-gara persoalan sepele.
Itu semua membuktikan bahwa sudah tidak ada lagi rasa persatuan dan kesatuan di antara para pemuda saat ini. Bagaimanapun globalisasi sudah seharusnya kita hadapi saat ini, namun harus kita sadari dengan globalisasi jelas akan menghilangkan nilai-nilai budaya kita, jika ikut terpengaruh menurut saya salah satu cara untuk menghadapi arus globalisasi adalah melalui pendidikan. Karena globalisasi itu artinya adalah kehilangan pekerjaan. Kemampuan rakyat di Negara-negara berkembang dan dunia pasti jauh melebihi negara-negara maju, kecuali ada kesadaran dari rakyat untuk menjadikan negaranya maju seperti yang dicontohkan Korea Selatan dan Jepang serta China. Warga negara-negara tersebut punya keinginan yang besar untuk mensejahterakan warganya sebelum mensejahterakan warga negara dunia lain melalui dibukanya cabang-cabang import ke negara-negara tersebut serta menanamkan rasa persatuan dan kesatuan sejak dini.

Tugas 3 , Tentang Salah satu tokoh wayang di Indonesia



Tokoh wayang Srikandi
Srikandi  atau Dewi Srikandi adalah salah satu tokoh di wiracarita Mahabharata. Ia adalah puteri Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari kerajaan Panchala. Ia adalah istri dari Raden Arjuna, penengah Pandawa. Srikandi merupakan titisan Dewi Amba yang tewas terkena panah Bisma, kakek para Pandawa dan Kurawa. Srikandi memiliki tabiat seperti seorang pria yaitu suka berperang. Ia memiliki watak yang mudah marah tetapi juga cepat reda, ia juga senantiasa menjaga kehormatan suaminya.
Dalam Mahabharata dikisahkan, di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang cintanya ditolak oleh Bisma. Amba yang merasa terhina, berdoa agar nantinya menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginan Amba terpenuhi dan ia bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Saat ia lahir, dewata menyuruh ayahnya untuk mengasuh Srikandi sebagai seorang putera. Sehingga Srikandi hidup seperti layaknya seorang pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah dengan seorang wanita. Tetapi, setelah istrinya mengetahui hal yang sebenarnya, ia menghina Srikandi yang menyebabkan ia kabur dari Panchala dan ingin bunuh diri, namun ia diselamatkan oleh seorang Yaksa yang bersedia menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi kemudian kembali dan hidup bahagia bersama istrinya.
Dalam pewayangan Jawa, dikisahkan Srikandi lahir karena keinginan kedua orangtuanya, Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, yang menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Drestadyumna dan Dropadi lahir dari upacara Putrakama Yadnya.
Dewi Srikandi senang dalam olah keprajuritan dan ia juga mahir menggunakan senjata panah. Kepandaiannya dalam ilmu memanah di dapatnya dari Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Namun, dari pernikahan itu, mereka tidak dikaruniai seorang putera.
Saat perang besar di Kurukshetra, Srikandi tampil sebagai senopati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, yang gugur di tangan Resi Bisma. Dalam pertempuran tersebut Srikandi benar-benar menjadi penyebab kematian Resi Bisma seperti yang menjadi doa Amba. Saat itu Resi Bisma tahu bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, karena ia tidak mau menyerang bila berhadapan dengan seorang wanita, Bisma menjatuhkan senjatanya. Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang Resi Bisma, kakek yang sebenarnya sangat dihormati dan disayanginya. Dengan bantuan Srikandi inilah Arjuna dapat membunuh Resi Bisma. Namun dalam pewayangan Jawa, yang membunuh Resi Bisma adalah Srikandi dengan panah Hrusangkali. Srikandi kemudian gugur di tangan Aswatama, putera Resi Drona yang menyelundup masuk ke keraton Astina setelah perang berakhir.

Referensi :



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar